1. Aset Tetap
Aset tetap merupakan sumber daya yang punya tiga karakteristik, yaitu ada bentuk fisik, digunakan dalam kegiatan operasional, tidak dijual ke konsumen. Aset ini diharap dapat memberi manfaat lebih dari satu tahun bagi perusahaan.
Kelompok utama aset tetap :
- Tanah
-Pengembangan tanah
- Bangunan
- Peralatan
Depresiasi
Depresiasi adalah proses alokasi biaya, bukan penilaian aset. Istilah ini digunakan untuk mengalokasi harga perolehan aset tetap menjadi beban selama masa manfaatnya dengan cara rasional dan sistematis.
Faktor-faktor Depresiasi :
1. Harga Perolehan
2. Masa Manfaat
3. Nilai Sisa
Metode Depresiasi :
1. Garis ukur
2. Unit aktivitas
3. Saldo penurunan
2. Sumber Daya Alam
Sumber daya alam mencakup sumber daya yang diatas tanah dan cadangan dibawah tanah
Harga perolehan sumber daya alam adalah harga yang dibutuhkan untuk memperoleh sumber daya tersebut.
3. Aset Tidak Berwujud
Aset tidak berwujud merupakan hak, keunggulan dan keuntungan kompetitif yang dihasilkan dari kepemilikan atas aset jangka panjang dan tidak memiliki bentuk secara fisik. Buktunya berupa perjanjian kontrak atau lisensi.
Senin, 16 Januari 2017
Rabu, 11 Januari 2017
Pengendalian Internal dan Kas
Pengendalian Internal dan Kas
Prosedur serta proses perusahaan untuk melindungi aset perusahaan meliputi semua perencanaan dengan semua metode.
Prinsip :
Membentuk pertanggung jawab, yaitu : manajemen harus bertanggung jawab secara jelas, adanya pemisahan tugas, prosedur dokumentasi harus dimiliki perusahaan.
Sistem Impress : Sistem yang mencatat pembentukan kas kecil
Sistem Fluktuasi : Sistem yang mencatat semua transaksi kas kecil yang keluar atau masuk
Macam-macam Kas :
1. Uang Kertas
2. Uang logam
3. Cek
4. Simpanan
5. Rekening tabungan
Prosedur serta proses perusahaan untuk melindungi aset perusahaan meliputi semua perencanaan dengan semua metode.
Prinsip :
Membentuk pertanggung jawab, yaitu : manajemen harus bertanggung jawab secara jelas, adanya pemisahan tugas, prosedur dokumentasi harus dimiliki perusahaan.
Sistem Impress : Sistem yang mencatat pembentukan kas kecil
Sistem Fluktuasi : Sistem yang mencatat semua transaksi kas kecil yang keluar atau masuk
Macam-macam Kas :
1. Uang Kertas
2. Uang logam
3. Cek
4. Simpanan
5. Rekening tabungan
Sistem Informasi Akuntansi
Sistem Informasi Akuntansi adalah suatu sistem dalam organisasi untuk mengolah informasi keuangan yang didapatkan dari eksternal / internal perusahaan.
Sistem Informasi akuntansi memiliki 5 sub, yaitu :
1. Sistem Pengeluaran
2. Sistem Pendapatan
3. Sistem Produksi
4. Sistem Manajemen Sumber Daya
5. Sistem Buku Besar dan Laporan Keuangan
Karakteristik :
1. Sistem Informasi melaksanakan tugas yang diperlukan
2. Pemakaian pada produsen relatif standar
3. Menangani data yang terperinci
4. Sistem informasi berfokus pada historis
5. Menyediakan informasi untuk memecahkan suatu masalah
Prinsip :
1. Adanya kesepakatan biaya
2. Tingkat kegunaan, informasi harus dapat dimengerti
3. Fleksibilitas, sistem infpormasi harus mengubah sesuai dengan berbagai macam pengguna
Komponen :
a. Manusia
b. Transaksi menjadi objek
c. Prosedur
d. Dokumen
Peranan :
1. Memperbaiki kualitas
2. Meningkatkan efisien
3. Berperan dalam penambilan keputusan
4. Keunggulan kompetitif
Golongan Pemakai
1. Internal : Manajemen, manajemen purchasing, manajemen personal, manajemen finansial
2. Eksternal : Pelanggan, pemasok, penganggung saham, karyawan, isntansi pemerintah
Pengembangan Sistem Informasi Akuntansi
1. Analisis
2. Desain
3. Implentasi (penetapan)
4. Menindaklanjuti
Contoh Sistem Informasi Akuntansi :
1. Sistem yang digunakan oleh perusahaan distribusi
2. Semua tagihan akan diproses dengan cara tertentu
3. Bagi pemasaran untuk mempertimbangkan produk baru perusahaan
4. Memproyeksikan perkiraan biaya dan pendapatan yang diperoleh
Sistem Informasi akuntansi memiliki 5 sub, yaitu :
1. Sistem Pengeluaran
2. Sistem Pendapatan
3. Sistem Produksi
4. Sistem Manajemen Sumber Daya
5. Sistem Buku Besar dan Laporan Keuangan
Karakteristik :
1. Sistem Informasi melaksanakan tugas yang diperlukan
2. Pemakaian pada produsen relatif standar
3. Menangani data yang terperinci
4. Sistem informasi berfokus pada historis
5. Menyediakan informasi untuk memecahkan suatu masalah
Prinsip :
1. Adanya kesepakatan biaya
2. Tingkat kegunaan, informasi harus dapat dimengerti
3. Fleksibilitas, sistem infpormasi harus mengubah sesuai dengan berbagai macam pengguna
Komponen :
a. Manusia
b. Transaksi menjadi objek
c. Prosedur
d. Dokumen
Peranan :
1. Memperbaiki kualitas
2. Meningkatkan efisien
3. Berperan dalam penambilan keputusan
4. Keunggulan kompetitif
Golongan Pemakai
1. Internal : Manajemen, manajemen purchasing, manajemen personal, manajemen finansial
2. Eksternal : Pelanggan, pemasok, penganggung saham, karyawan, isntansi pemerintah
Pengembangan Sistem Informasi Akuntansi
1. Analisis
2. Desain
3. Implentasi (penetapan)
4. Menindaklanjuti
Contoh Sistem Informasi Akuntansi :
1. Sistem yang digunakan oleh perusahaan distribusi
2. Semua tagihan akan diproses dengan cara tertentu
3. Bagi pemasaran untuk mempertimbangkan produk baru perusahaan
4. Memproyeksikan perkiraan biaya dan pendapatan yang diperoleh
Kamis, 22 Desember 2016
Manusia dan Harapan
“MANUSIA DAN HARAPAN”
DISUSUN OLEH:
TRIHARIN MULYO
SUNDARI SUNDARYO
(17216444)
KELAS: 1EA22
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Manusia dan Harapan
Menurut kodratnya, manusia adalah makhluk sosial. Setiap lahir ke
dunia langsung disambut dalam suatu pergaulan hidup, yakni di tengah suatu
keluarga atau anggota masyarakat lainnya. Ditengah-tengah manusia itulah,
seseorang dapat hidup dan berkembang baik fisik/jasmani maupun mental/
spiritualnya.
A.
Pengertian Harapan
Harapan berasal dari kata harap yang berarti keinginan supaya sesuatu
terjadi, sehingga harapan berarti sesuatu yang diinginkan dapat terjadi. Dengan
demikian, harapan menyangkut masa depan. Setiap manusia mempunyai harapan.
Harapan tersebut tergantung pada pengetahuan, pengalaman, lingkungan hidup dan
kemampuan masing-masing.
Harapan harus berdasarkan kepercayaan, baik kepercayaan pada diri
sendiri, maupun kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berhasil atau tidaknya
suatu harapan tergantung pada usaha orang yang mempunyai harapan. Karena usaha
dan doa merupakan sarana terkabulnya harapan.
Menurut Abraham Maslow sesuai dengan kodratnya harapan manusia atau
kebutuhan manusia itu ialah :
a) Kelangsungan hidup (survival)
b) Keamanan (safety)
c) Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai (be
loving and love)
d) Diakui lingkungan (status)
e) Perwujudan cita-cita (self actualization)
B.
Sebab-Sebab Manusia Mempunyai Harapan
a) Dorongan Kodrat
Kodrat
ialah sifat, keadaan, atau pembawaan alamiah yang sudah terjelma dalam diri
manusia sejak manusia diciptakan oleh Tuhan. Dorongan kodrat menyebabkan
manusia mempunyai keinginan atau harapan.
b) Dorongan kebutuhan hidup
Kebutuhan
hidup manusia secara garis besarnya dapat dibedakan atas : kebutuhan jasmani
dan kebutuhan rohani. Kebutuhan jasmanial misalnya ; makan, minum, pakaian, rumah,
ketenangan, hiburan, dan keberhasilan.
Untuk
memenuhi semua kebutuhan itu manusia bekerja sama dengan mansuaia lain. Hal ini
disebabkan, kemampuan manusia sangat terbatas, baik kemampuan fisik / jasmaniah maupun kemampuan berpikirnya.
Dengan adanya dorongan kodrat dan
dorongan kebutuhan hidup itu maka manusia mempunyai harapan. Pada hakekatnya
harapan itu adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
c) Kelangsungan hidup (survival)
Untuk
kelangsungan hidupnya, manusia membutuhkan sandang,pangan, dan papan (tempat
tinggal). Kebutuhan kelangsungan hidup ini terlihat sejak bayi lahir.
Sandang,
semula hanya berupa perlindungan /
keamanan, untuk melindungi dirinya dari cuaca. Tetapi dalam perkembangan
hidupnya, sandang tidak hanya sebagai perlindungan keamanan, tetapi lebih
cenderung kepada kebutuhan lain.
Papan,
yang dimaksud adalah tempat tinggal atau rumah. RUmah kebutuhan primer manusia
karena berfungsi sebagai tempat berlindung, dari panas, gelap dan lainnya.
Untuk
mencukupi kebutuhan sandang, pangan, papan itu, maka manusia sejak kecil telah
mulai belajar. Tiap manusia perlu kerja keras dengan harapan apa yang
diinginkan : pangan, sandang, dan papan yang layak terpenuhi.
d) Keamanan
Setiap
orang membutuhkan keamanan. Rasa aman tidak harus diwujudkan dengan
perlindungan yang nampak, secara moral pun orang lain dapat memberi rasa aman.
Dalam hal ini agama sering merupakan cara memperoleh keamanan moril bagi
pemiliknya. Walaupun secara fisik keadaannya dalam bahaya, keyakinan bahwa
Tuhan memberikan perlindungan berartu sudah memberikan keamanan yang
diharapkan.
e) Hak dan kewajiban mencintai dan dicintai
Tiap
orang mempunyai hak dan kewajiban. Dengan pertumbuhan manusia maka tumbuh pula
kesadaran akan hak dan kewajiban. Bila seseorang telah menginjak dewasa, maka
ia merasa sudah dewasa, sehingga saatnya mempunyai harapan untuk dicintai
dan mencintai.
f) Status
Setiap
manusia membutuhkan status. Siapa, untuk apa, mengapa manusia hidup. Dalam lagu
“untuk apa” ada lirik yang berbunyi “aku ini anak siapa, mengapa aku
dilahirkan”. Dari lirik tersebut dapat disimpulkan bahwa setiap manusia yang
lahri di bumi ini tentu akan bertanya tentang statusnya. Status keberadaannya.
Status dalam keluarga, status dalam masyarakat, dan status dalam negara.
Status
itu penting, karena dengan status orang tahu siapa dia. Harga diri orang antara
lain melekat pada status orang itu. Misalnya ada anak haram, biarpun anak haram
itu tingkah lakunyabaik dan tidak berdosa sebab yang berdosa orang tuamua,
namun masyarakat tetap memberikan cap yang negatif.
Alangkah
kejamnya manusia itu dengan adanya harapan untuk memperoleh status ini berarti
orang menguasai hal=k milik nama baik, ingin berprestasi, inginmeningkatkan
harga diri, dan sebagainya.
g) Perwujudan cita-cita
Selanjutnya
manusia berharap diakui keberadaannya sesuai dengan keahliannya atau
kepangkatannya atau profesinya. Pada saat itu manusia mengembangkan bakatnya
atau kepandaiannya agar ia diterima atau diaku kehebatannya.
DAFTAR
PUSTAKA
Bab 11, Manusia dan Harapan, Buku Ilmu Budaya Dasar,
karya Widyo Nugroho dan Achman Muchji
Manusia dan Pandangan Hidup
“MANUSIA DAN PANDANGAN HIDUP”
DISUSUN OLEH:
TRIHARIN MULYO
SUNDARI SUNDARYO
(17216444)
KELAS: 1EA22
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Manusia dan Pandangan Hidup
Manusia pasti
mempunyai pandangan hidup walau bagaimanapun bentuknya. Karena pandangan hidup
itu bersifat kodrati dan menentukan masa depan seseorang.
A.
Pengertian Pandangan Hidup
Pandangan hidup bukanlah hal yang timbul
seketika atau dalam waktu yang singkat saja, melainkan melalui proses waktu
yang lama dan terus menerus, sehingga hasil pemikiran itu dapat diuji
kenyhataannya. Hasil pemikiran itu dapat diterima oleh akal, shingga diakui
kebenarannya. Atas dasar ini manusia menerima hasil pemikiran itu sebagai
pegangan, pedoman, arahan, atau petunjuk yang disebut pandangan hidup.
Pandangan hidup artinya pendapat atau
pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia.
Pandangan hidup banyak sekali macam dan ragamnya. Akan tetapi pandangan hidup
dapat diklasifikasikan berdasarkan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
a.) Pandangan hdiup yang berasal dari agama yaitu
pandangan hidup yang mutlak kebenarannya.
b.) Pandangan hidup yang berupa ideology yang
disesuaikan dengan kebudayaan dan norma yang terdapat pada negara tersebut.
c.) Pandangan hdiup hasil renungan yaitu pandangan
hidup yang relativ kebenarannya.
Apabila pandangan hidup diterima oleh sekelompok orang sebagai
pendukung suatu organisasi maka disbeut ideology. Jika organisasi tersebut
bersifat politik, ideologinya disebut ideologi politik. Jika organisasi itu
negara maka disebut ideologi negara.
Pandangan hdiup pada dasarnya mempunyai unsur-unsur yaitu cita-cita, kebajikan, usaha,
keyakinan/kepercayaan. . Keempat unsur ini merupakan satu rangkaian
kesatuan yang tidak terpisahkan. Cita-cita ialah apa yang diinginkan yang
mungkin dapat dicapai dengan usaha atau perjuangan. Tujuan yang hendak dicapai
ialah kebajikan, yaitu segala hal yang baik yang membuat manusia makmur,
bahagia, damai, tentram. Usaha atau perjuangan adalah kerja keras yang dilandasi
keyakinan/ kepercayaan. Keyakinan/kepercayaan diukur dengan kemampuan akal,
kemampuan jasmani, dan kepercayaan kepada Tuhan.
·
Cita-cita
Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, yang
disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran.
Pada umumnya, cita-cita merupakan semacam garis linier yang makin lama makin
tinggi dengan perkata lain: cita-cita merupakan keinginan, harapan, dan tujuan
manusia yang makin tinggi tingkatannya.
Seseorang dapat mencapai cita-citanya, hal itu
bergantung dari tiga faktor. Pertama, manusianya yaitu yang memiliki cita-cita;
kedua, kondisi yang dihadapi selama mencapai apa yang dicita-citakan; dan
ketiga, seberapa tinggikah cita-cita yang hendak dicapai.
Faktor
manusia yang mau mencapai
cita-cita ditentukan oleh kualitas manusianya. Ada orang yang tidak berkemauan,
sehingga apa yang dicita-citakan hanya merupakan khayalan saja.
Faktor
kondisi yang mempengaruhi
tercapainya cita-cita, pada umumnya dapat disebut yang menguntungkan dan yang
menghambat. Faktor yang menguntungkan merupakan kondisi yang memperlancar
tercapainya suatu cita-cita, sedangkan yang menghambat merupakan kondisi yang
merintangi tercapainya suatu cita-cita.
Faktor
tingginya cita-cita yang
merupakan faktor ketiga dalam mencapai cita-cita. Memang ada anjuran agar
seseorang menggantungkan cita-citanya setinggi bintang di langit. Sementara itu
ada lagi anjuran, agar seseorang menempatkan cita-citanya yang sepadan atau
sesuai dengan kemmapuannya. Pepatah mengatakan “baying-bayang setinggi badan”,
artinya mencapai cita-cita sesuai dengan kemampuan dirinya. Anjuran yang
terakhir ini menyebabkan seseorang secara bertahap mencapai apa yang
diidam-idamkan. Pada umumnya dilakukan dengan penuh perhitungan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki saat itu serta kondisi yang dilaluinya.
·
Kebajikan
Kebajikan adalah perbuatan yang selaras dengan
suara hati kita, suara hati masyarakat dan hukum Tuhan. Kebajikan berarti
berkata sopan, santun, berbahasa baik, bertingkah laku baik, ramah tamah
terhadap siapapun, berpakaian sopan agar tidak merangsang bagi yang melihatnya.
Kebajikan manusia nyata dan dapat dirasakan
dalam tingkah lakunya. Karena tingkah laku bersumber pada pandangan hidup, maka
setiap orang memiliki tingkah laku sendiri-sendiri, sehingga tingkah laku
seseorang berbeda-beda.
Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku
setiap orang ada tiga hal. Pertama faktor pembawaan
(heriditas) yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan.
Pembawaan merupakan hal yang diturunkan atau dipusakai oleh orang tua.
·
Usaha / Perjuangan
Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk
mewujudkan cita-cita. Setiap manusia harus kerja keras untuk kelanjutan
hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha /
perjuangan. Perjuangan untuk hidup yang sudah menjadi kodrat manusia.
Kerja keras pada dasarnya menghargai dan
meningkatkan harkat dan martabat manusia. Sebaliknya, pemalas membuat manusia
itu miskin, melarat dan berarti menjatuhkan harkat dan martabatnya sendiri.
Karena itu tidak boleh bermalas-malas, bersantai-santai dalam hidup ini. Santai
dan istirahat ada waktunya dan manusia mengatur waktunya itu.
Untuk bekerja keras, manusia dibatasi oleh
kemampuan. Karena kemampuan terbatas itulah timbul perbedaan tingkat kemakmuran
antara manusia satu dan manusia lainnya. Kemampuan itu terbatas pada fisik dan
keahlian / ketrampilan.
Karena manusia mempunyai rasa kebersamaan dan
belas kasihan antara sesame manusia, maka ketidakmampuan atau kemampuan
terbatas yang menimbulkan perbedaan tingkat kemakmuran itu dapat diatasi
bersama-sama secara tolong –menolong, bergotong-royong.
·
Keyakinan/ Kepercayaan
Keyakinan/ kepercayaan menjadi dasar pandangan
hidup berasal dari akal atau kekuasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr. Harun Nasution,
ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran naturalism, intelektualisme, dan aliran
gabungan.
a.)
Aliran Naturalisme
Aliran Naturalisme berintikan spekulasi, mungkin ada Tuhan mungkin
juga tidak ad Tuhan. Lalu mana yang benar? Yang benar adalah keyakinana. Jika
kita yakin Tuhan itu ada, maka kita katakana Tuhan ada. Bagi yang tidak yakin,
dikatakan TUhan tidak ada yang ada hanya natur.
Bagi yang percaya Tuhan, Tuhan itulah kekuasaan tertinggi. Manusia
adalah makhluk ciptaan Tuhan. Karena itu manusia mengabdi kepada Tuhan
berdasarkan ajaran Tuhan yaitu agama. Ajaran agama itu ada dua macam, yaitu :
1. Ajaran agama dogmatis, yang disampaikan Tuhan
melalui nabi-nabi. Ajaran agama yang dogmatis bersifat mutlak (absolute), tidak
berubah-ubah.
2. Ajaran agama dari pemuka-pemuka agama, yaitu
sebagai hasil pemikiran manusia, sifatnya relatif (terbatas).Sifatnya dapat
berubah-ubah sesuai dengan perkembangan jaman.
b.)
Aliran Intelektualisme
Dasar aliran ini adalah logika / akal. Manusia
mengutamakan akal. Dengan akal manusia berpikir. Mana yang benar menurut akal
itulah yang baik, walaupun bertentangan dengan kekuatan hati nurani. Manusia
yakin bahwa dengan kekuatan pikir (akal) kebajikan itu dapat dicapai dengan
sukses. Dengan akal diciptakan teknologi.
Apabila aliran ini dihubungkan dengan
pandangan hidup, maka keyakinan manusia itu bermula dari akal. Jadi pandangan
hidup ini dilandasi oleh keyakinan kebenaran yang diterima akal. Benar menurut
akal itulah yang baik. Manusia yakin bahwa kebajikan hanya dapat diperoleh
dengan akal (ilmu dan teknologi). Pandangan hidup ini disebut liberalism.
Kebebasan akal menimbulkan kebebasan bertngkah laku dan berbuat, walaupun
tingkah laku dan perbuatan itu bertentangan dengan hati nurani. Kebebasan akal
lebih ditekankan pada setiap individu. Karena itu individu yang berakal dapat
menguasai individu yang berpikir rendah.
c.)
Aliran Gabungan
Dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga
akal, kekuatan gaib artinya kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya
Tuhan sebagai dasar keyakinan, sedangkan akal adalah dasar kebudayaan, yang
menentukan benar tidaknya sesuatu. Segala sesuatu dinilai dengan akal, baik
sebagai logika berpikir maupun sebagai rasa (hati nurani).
Apabila aliran ini dihubungkan dengan
pandangan hidup maka akan timbul dua kemungkinan pandangan hidup. Apabila
keyakinan lebih berat didasarkan pada logika berpikir, sedangkan hati nurani
dinomor duakan, kekuatan gaib dari Tuhan diakui adnaya tetapi tidak menentukan,
dan logika berpikir tidak ditekankan pada logika berpikir individu, melainkan
logika berpikir kolektif, pandangan hidup ini disebut soisalisme.
Apabila dasar keyakinan itu kekuatan gaib dari
Tuhan dan akal, keduanya mendasari keyakinan secara berimbang, logika berpikir
baik secara individual maupun secara kolektif pandangan hidup ini disebut
sosialisme-religius. Kebajikan yang dikehendaki adalah kebajikan menurut logika
berpikir dan dapat diterima oleh hati nurani, semuanya itu berkat karunia
Tuhan.
B.
Langkah-langkah Berpandangan Hidup yang Baik
Langkah-langkah berpandangan hidup ini
penting, karena hanya dengan mempunyai langkah-langkah itulah kita dapat
memperlakukan pandangan hidup sebagai sarana mencdapai tujuan dan cita-cita
dengan baik. Adapun langkah-langkah itu sebagai
berikut :
(1) Mengenal
Mengenal merupakan tahap pertama dari setiap
aktivitas hidupnya yang dalam hal ini mengenal apa itu pandangan hidup.Tentunya
kita yakin dan sadar bahwa setiap manusia pasti mempunyai pandangan hidup, maka
kita dapat memastikan bahwa pandangan hidup itu ada sejak manusia itu ada.
(2) Mengerti
Tahap kedua adakah mengerti. Mengerti disini
dimaksudkan mengerti terhadap pandangan hidup itu sendiri. Mengerti terhadap
pandangan hidup disini memegang peranan penting. Karena dengan mengerti, ada
kecenderungan mengikuti apa yang terdapat dalam pandangan hidup itu.
(3) Menghayati
Langkah selanjutnya adalah menghayati
pandangan hidup itu. Dengan menghayati pandangan hidup kita memperoleh gambaran
yang tepat dan benar mengenai kebenaran pandangan hidup itu sendiri.
Menghayati disini dapat diibaratkan menghayati
nilai-nilai yang terkandung didalamnya, yaitu dengan memperluas dan memperdalam
pengetahuan mengenai pandangan hidup itu sendiri. Langkah yang dapat ditempuh
adalah menganalisa hal-hal yang berhubungan dengan pandangan hidup, bertanya
kepada orang yang dianggap lebih tahu dan lebih berpengalaman mengenai isi
pandangan hidup itu atau mengenai pandangan hidup itu sendiri. Jadi dengan
menghayati pandangan hidup kita akan memperoleh mengenai kebenaran tentang
pandangan hidup itu sendiri.
Yang perlu diingat dalam langkah mengerti dan
menghayati pandangan hidup yaitu harus ada sikap penerimaan terhadap pandangan
hidup itu sendiri. Dengan kata lain langkah mengenai mengeerti pandangan hidup
merupakan langkah yang menentukan terhadap langkah selanjutnya.
(4) Meyakini
Meyakini ini merupakan suatu hal untuk
cenderung memperoleh suatu kepastian sehingga dapat mencapai suatu tujuan
hidupnya. Dengan meyakini berarti secara langsung ada penerimaan yang ikhlas
terhadap pandangan hidup itu. Adanya sikap menerima secara ikhlas ini maka ada
kecenderungan untuk selalu berpedoman kepadanya dalam segala tingkah laku dan tindak
tanduknya selalu dipengaruhi oleh pandangan hidup yang diyakininya.
(5) Mengabdi
Pengabdian merupakan sesuatu hal yang penting dalam menghayati dan
meyakini sesuatu yang telah dibenarkan dan diterima baik oleh dirinya
lebih-lebih oleh orang lain. Dengan mengabdi maka kita akan merasakan
manfaatnya dan perwujudan manfaat mengabdi dapat dirasakan oleh pribadi kita
sendiri.
Jadi, jika kita sudah mengenal, mengerti, menghayati, dan meyakini
pandangan hidup ini, maka selayaknya disertai dengan pengabdian. Dan pengabdian
ini hendaknya dijadikan pakaian, baik dalam waktu tentram lebih-lebih bila
menghadapi hambatan, tantangan dan sebagainya.
(6) Mengamankan
Proses mengamankan ini merupakan langkah
terakhir. Langkah yang terakhir ini merupakan langkah terberat dan benar-benar
membutuhkan iman yang teguh dan kebenaran dalam menanggulangi segala sesuatu
demi tegaknya pandangan hidup itu.
DAFTAR
PUSTAKA
Bab 8, Manusia dan Pandangan Hidup, Buku Ilmu Budaya
Dasar, karya Widyo Nugroho dan Achman Muchji
Manusia dan Penderitaan
“MANUSIA DAN PENDERITAAN”
DISUSUN OLEH:
TRIHARIN MULYO
SUNDARI SUNDARYO
(17216444)
KELAS: 1EA22
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
Manusia
dan Penderitaan
Dalam definisi lama
yang sudah dikenal umum, manusia dikatakan sebagai binatang yang berakal budi.
Aristoteles yang memberi definisi ini, menggunakan kata Yunani “logos” untuk
“akal budi”. Manusia juga dapat dikatakan sebagai makhluk berbudaya, dengan
budayanya itu ia berusaha mengatasi segala haling rintangan seperti penderitaan
atau hal lain yang dialaminya. Hal ini yang membuat manusia itu kreatif, baik
bagi penderita sendiri maupun bagi orang lain yang melihat atau mengamati
penderitaan.
Pengertian
Penderitaan
Penderitaan
berasal dari kata derita. Kata derita berasal dari bahasa sansekerta dhra
artinya menahan atau menanggung. Derita artinya menanggung atau merasakan
sesuatu yang tidak menyenangkan. Penderitaan itu dapat lahir atau batin, atau
lahir batin.
Penderitaan
termasuk termasuk realitas dunia dan manusia dengan intensitas yang bertingkat,
ada yang berat dan ad ayang ringna. Namun peranan individu juga menentukan
berat-tidaknya intensitas penderitaan.
Penderitaan juga dapat merupakan energy untuk bangkit bagi seseorang,
atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
Penderitaan
dialami oleh semua orang yang merupakan “risiko” hidup. Tuhan memberikan
kesenangan atau kebahagiaan kepada umatnya, tetapi juga memberikan penderitaan
atau kesedihan yang kadang bermakna agar manusia sadar dan tidak berpaling dariNya.
Bagi manusia yang tebal imamnya musibah yang dialaminya akan cepat dapat
menyadarkan dirinya untuk bertobat kepadaNya dan bersikap pasrah akan nasib
yang ditentukan Tuhan atas dirinya. Kepasrahaan karena yakin bahwa kekuasaan
Tuhan memang jauh lebih besar dibanding manusia yang kecil. Dalam kepasrahaan
demikianlah akan diperoleh suatu kedamaian dalam hatinya, sehingga secara
berangsur akan berkurang penderitaan yang dialaminya, untuk akhirnya masih
dapat bersyukur bahwa Tuhan tidak memberikan cobaan yang lebih berat dari yang
dialaminya.
Berbagai
kasus penderitaan terdapat dalam kehidupan. Banyaknya macam kasus penderitaan
sesuai dengan lika-liku kehidupan manusia. Bagaimana manusia menghadapi
penderitaan dalam hidupnya? Penderitaan fisik yang dialami dapat diatasi secara
medis, sedangkan penderitaan psikis penyembuhannya terletak pada kemampuan si
penderita dalam menyelesaikan soal-soal
psikis yang dihadapinya. Semuanya
merupakan “risiko” karena seseorang mau hidup. Sehingga enak atau tidaknya,
bahagia atau sengsara merupakan dua sisi atau masalah yang wajib diatasi.
Siksaan
Siksaan
dapat diartikan sebagai siksaan badan atau jasmani, dan dapat juga berupa
siksaan jiwa atau rokhani. Akibat siksaan yang dialami seseorang, timbullah
penderitaan. Siksaan yang dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari banyak
terjadi dan banyak dibaca di berbagai media massa. Bahkan kadang-kadang ditulis
di halaman pertama dengan judul huruf besar dan kadang disertai gambar si
korban.
Siksaan
sifatnya psikis misalnya kebimbangan, kesepian dan ketakutan.
Kebimbangan dapat dialami bila
seseorang pada siati saat tidak dapat menentukan pilihan mana yang akan
diambil. Akibat dari kebimbangan, seseorang berada dalam keadaan yang tidak
menentu, sehingga ia merasa tersiksa dalam hidupnya saat itu. Bagi orang yang
lemah dalam berpikir, masalah ini akan menjadi siksaan berkepanjagnan. Tetapi
bagi orang yang kuat dalam berpikir, ia akasn cepat mengambil suatu keputusan,
sehingga kebimbangan akan cepat dapat diatasi.
Kesepian dialami seseorang ketika
merasakan rasa sepi dalam dirinya sendiri atau jiwanya walaupun oa dalam
lingkungan orang ramai. Kesepian merupakan salah satu wujud dari siksaan yang
dapat dialami oleh seseorang. Seperti halnya kebimbangan, kesepian perlu diatasi
dengan cepat agar seseorang tidak terus menerus merasakan penderitaan batin.
Sebagai homo socius, seseorang perlu kawan yang dapat diajak untuk
berkomunikasi untuk mengalahkan rasa kesepian dengan cepat. Pada umumnya, orang
yang dapat dijadikan “kawan duka” adalah orang yang dapat mengerti dan
menghayati kesepian yang dialami oleh sahabatnya. Selain mencari kawan,
seseorang juga perlu mengisi waktu dengan kesibukan, khusunya yang bersifat
fisik, sehingga rasa kesepian tidak memperoleh tempat dan waktu dalam dirinya.
Ketakutan, merupakan bentuk lain yang
dapat menyebabkan seseorang mengalami siksaan batin. Bila rasa takut itu
dibesar-besarkan yang tidak pada tempatnya, maka disebut sebagai phobia.
Seperti pada kesepian, ketakutan dapat juga timbul atau dialami seseorang
walaupun lingkungannya ramai, sebab ketakutan merupakan hal yagn sifatnya
psikis. Banyak sebab yang menjadikan seseorang merasa ketakutan, antara lain :
a) Claustrophobia dan Agoraphobia
Claustrophobia adalah rasa takut
terhadap ruangan tertutup. Agrophobia adalah ketakutan yang disebabkan
seseorang berada di tempat terbuka.
b) Gamang
Gamang merupakan ketakutan apabila
seseorang berada di tempat yang tinggi.
c) Kegelapan
Kegelapan merupakan ketakutan
apabila seseorang berada di tempat yang gelap, sebab dalam pikirannya dalam
kegelapan demikian akan muncul sesuatu yang ditakuti, misalnya setan atau
pencuri.
d) Kesakitan
Kesakitan merupakan ketakutan yang
disebabkan oleh rasa sakit yang akan dialami. Hal itu disebabkan karena dalam
pikirannya semuanya akan menimbulkan kesakitan.
e) Kegagalan
Kegagalan merupakan ketakutan
seseorang yang disebabkan karean merasa bahwa apa yang akan dijalankan
mengalami kegagalan.
Kekalutan
Mental
Penderitaan
batin dalam ilmu psikologi dikenal sebagai kekalutan mental atau dapat
dirumuskan sebagai gasngguan kejiwaan akibat ketidakmampuan seseorang
megnhadapi persoalan yang harus diatasi sehingga yang bersangkutan bertingkah
secara kurang wajar.
Sebab-sebab
timbulnya kekalutan mental, dapat banyak disebutkan antara lain sebagai berikut
:
a. Kepribadian yang lemah
akibat jasmani atau mental yang kurang sempurna sering menyebabkan yang
bersangkutan merasa rendah diri yang secara berangsur-angsur akan menyudutkan
kedudukannya dan menghancurkan mentalnya.
b. Terjadinya konflik sosisal budaya yang
dapat menyebabkan yang bersangkutan tidak dapat menyesuaikan diri lagi. Misal,
orang pedesaan yang berat menyesuaikan diri dengan kehidupan kota.
c. Cara pematangan batin
yang salah dengan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap kehidupan sosial.
Penderitaan
dan perjuangan
Penderitaan
adalah bagian kehidupan manusia yang bersifat kodrati yabg artinya sudah
menjadi konsekuensi manusia hidup, bahwa manusia hidup ditakdirkan bukan hanya
untuk bahagia, melainkan juga menderita. Karena itu manusia tidak boleh pesimis
yang menganggap hidup sebagai rangkaian penderitaan.
Pembebasan
dari penderitaan pada hakekatnya menruskan kelangsungan hidup. Caranya dengan
berjuang menghadapi tantangan hidup dalam alam lingkunga, masyarakat sekitar,
dengan waspada, dan disertai doa kepada Tuhan supaya terhindari dari bahaya dan
malapetaka. Manusia hanya merencanakan dan Tuhan yang menentukan. Penderitaan
yang terjadi selain dialami sendiri oleh yang bersangkutan, mungkin juga
dialami oleh orang lain. Bahkan mungkin terjadi akibat perbuatan atau kelalaian
seseorang, orang lain atau masyarakat menderita.
Penderitaan,
Media Masa dan Seniman
Berita
mengenai penderitaan manusia silih berganti mengisi lembaran Koran, layar TV,
pesawat radio, dengan maksud supaya semua orang yang menyaksikan ikut merasakan
dari jauh penderitaan manusia. Dengan demikian dapat menggugah hati manusia
untuk berbuat sesuatu. Media masa merupakan alat yang paling tepat untuk
emngkomunikasikan peristiwa-peristiwa penderitaan manusia secara cepat kepada
masyarakat.
Dengan
demikian, masyarakat dapat segera menilai untuk menentukan sikap antara sesama
manusia terutama bagi yang merasa simpati. Tetapi tidak kalah pentingnya
komunikasi yang dilakukan para seniman melalui karya seni mereka, sehingga para
pembaca, penonton dan penikmat seninya dapat menghayati penderitaan sekaligus
keindahan karya seni.
Penderitaan
dan Sebab-sebabnya
Apabila
dikelompokkan secara sederhana berdasarkan sebab-sebab timbulnya penderitaan,
maka penderitaan manusia dapat diperinci sebagai berikut :
A. Penderitaan yang timbul karena
perbuatan buruk manusia.
Penderitaan yang menimpa manusia karena
perbuatan buruk manusia dapat terjadi dalam hubungan sesame manusia dan
hubungan manusia dengan alam sekitarnya. Penderitaan kadang disebut nasib
buruk. Nasib buruk ini dapat diperbaiki manusia supaya menjadi baik. Dengan
kata lain, manusialah yang dapat memperbaiki nasibnya.
Perbedaan nasib buruk dan takdir yaitu
jika takdir adalah Tuhan yang menentukan sedangkan nasib buruk itu manusia
sendirilah penyebabnya. Perbuatan buruk manusia terhadap lingkungannya juga
menyebabkan penderitaan manusia.
B. Penderitaan yang muncul karena
penyakit, siksaan / azab Tuhan
Penderitaan manusia dapat juga terjadi akibat penyakit
atau siksaan / azab Tuhan. Namun kesabaran, tawakal, dan optimism dapat
merupakan usaha manusia untuk mengatasi penderitaan itu sendiri.
Pengaruh
Penderitaan
Seseorang
yang mengalami penderitaan mungkin akan memperoleh pengaruh yang berbagai macam
dan sikap dalam dirinya. Sikap yang timbul dapat berupa sikap positif atau
sikap negatif. Sikap negative misalnya penyesalan, sikap kecewa, putus asa
sampai ingin bunuh diri. Kelanjutan dari sikap ini dapat timbul sikap anti
seperti tidak punya gairah hidup.
Sikap
positif yaitu sikap optimis dalam mengatasi penderitaan hidup dan menganggap
hidup bukan rangkaian penderitaan, melainkan perjuangan membebaskan diri dari
penderitaan, dan penderitaan itu hanyalah bagian dari kehidupan. Sikap ini
cenderung kreatif, tidak mudah menyerah, bahkan timbul sikap keras atau sikap
anti.
Apabila
sikap negative dan sikap positif dikomunikasikan oleh para seniman kepada para
pembaca atau penonton, maka para pembaca, para penonton akan memberikan
penilaiannya yang dapat berupa kemauan untuk mengadakan perubahan nilai-nilai
kehidupan dalam masyarakat dengan tujuan perbaikan keadaan.
DAFTAR
PUSTAKA
Bab 6, Manusia dan Penderitaan, Buku Ilmu Budaya
Dasar, karya Widyo Nugroho dan Achman Muchji
Bab 1, Bahasa Manusia, Buku Fakta, Nilai,Peristiwa,
karya Prof.Dr.C. A. van Peursen.
Langganan:
Komentar (Atom)

